Demikian pula hubungan kami dengan burung ungkut-ungkut
yang mematuki ulat di kulit filicium. Menurutku ungkut-ungkut
mendapat nama lokal yang tidak adil. Bayangkan, nama bukunya
adalah coppersmith barbet. Nyatanya ia tak lebih dari burung biru
pucat membosankan dengan bunyi yang lebih membosankan kut...
kut... kut... namun kehadirannya sangat kami tunggu karena ia selalu
mengunjungi pohon filicium sekitar pukul 10 pagi. Pada jam ini kami mendapat pelajaran kewarganegaraan yang jauh lebih membosankan. Suara kut-kut-kut persis di luar jendela kelas kami jelas lebih
menghibur dibanding materi pelajaran bergaya indoktrinasi itu.